Jika banyak para youtuber Indonesia memploklamirkan dirinya sudah bermain youtube dan menjadi konten kreator lebih dari 5 tahun bahkan ada yang sudah hampir 10 tahun. Sedangkan, saya sudah mengakses youtube dari tahun 2005, pada waktu itu saya sudah menonton youtube hanya sekedar mengisi waktu jika bosan bermain game online di warnet karena paket gratis malam masih panjang, ya saya hanya menjadi penikmat karya saja. Pada tahun 2016 banyak kasus youtuber yang menjadi viral, seperti kasus #salahbeli seorang youtuber yang menjual barang dari penggemarnya. kasus anak kecil yang berlagak menjadi seorang youtuber terkenal, kemudian habis-habisan di bully oleh orang dewasa sampai sang anak harus menghapus semua konten videonya. Bahkan ada anak-anak yang mengupload video lipsync mereka dengan lagu explicit yang diciptakan oleh youtuber Indonesia, yang seharusnya kata-kata kasar seperti itu tidak pantas mereka ucapkan bahkan tirukan. Atau kasus terbaru seorang remaja yang menjadi viral karena mempublikasikan kesehariannya dengan perilaku yang unconvensional di Vlog, yang kemudian di gadang-gadang menjadi sebuah “relation(shit) goals” bagi anak remaja masa kini.
Memang pada tahun 2016 ini, konten youtube Indonesia banyak di banjiri oleh Vlog, bagi yang belum tahu apa itu Vlog, vlog adalag video blog yang berisi tentang kegiatan keseharian youtuber, dari pagi hari saat bangun tidur, sampai tidur lagi di malam hari, Hal ini bisa dibilang bentuk baru selfie dengan menggunakan video sebagai medianya. Pasti kalian banyak bertanya-tanya, kenapa para youtuber bisa asik dengan meliput kehidupan melalui kamera, berbicara kepada kamera sambil melakukan aktifitas sehari-hari mereka, seolah-olah kamera tersebut adalah viewer mereka. jika kalian menjawab semua itu dilakukan demi uang, itu adalah jawaban yang umum, ya benar, semakin banyak viewer, semakin banyak uang yang mereka dapatkan. Saya akan mencoba menjawabnya dari perspektif psikologi. Dalam persepektif psikologi ada banyak teori kepribadian yang menjelaskan perilaku seseorang berdasarkan kepribadiannya, salah satunya adalah teori kepribadian Big Five, teori ini membagi kepribadian manusia menjadi lima tipe kepribadian, yaitu Extraversion, Agreeableness, Neuroticism, Openness dan Conscientiousness.
Menurut hasil penelitian Hamid, Ishak & Yazam (2015) menjelaskan bahwa pengguna youtube mempunyai korelasi positif dengan kepribadian Extraversion dan Neuroticism, hal ini bisa diasumsikan bahwa seorang youtuber memiliki tipe kepribadian Extraversion dan Neuroticism. Orang yang memiliki kepribadian Extraversion akan lebih senang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya baik secara kuantitas maupun intensitas, mereka juga orang yang asertif, aktif, suka mencari hal yang menyenangkan atau mempunyai jiwa petualang, antusias, mempunyai emosi positif, dan hangat (Costa & McCrae, 1992), tipikal kepribadian ini banyak kita temui di youtuber dengan kategori channel vlog, tidak heran mereka bisa dengan asiknya membuat vlog bahkan sampai dengan daily vlog, iya daily vlog, vlog yang di upload hampir setiap hari, atau kegiatan setiap harinya direkam, di edit kemudian di upload dalam satu video. Sedangkan orang yang memiliki kepribadian Neuroticism, cenderung mudah cemas, gampang tersinggung, tidak mudah puas, impulsif, atau moody, rentan tidak percaya diri (Costa & McCrae, 1992), mungkin tipe ini lebih banyak ditemui para youtuber yang channelnya bertipe gaming, tak heran kan banyak bahasa kasar keluar saat memainkan game mereka. Penelitian terbaru menemukan bahwa tingkat narcis seseorang itu akan semakin meningkat dikarenakan feedback dari orang lain, seperti like, share, subscribe dan comment (Lee & Sung, 2016). Penelitian tersebut menggambarkan bahwa seorang youtuber terlibat aktif dengan mengecek jumlah statistik respon terhadap karya mereka, sering terlibat aktif membalas komentar dari viewernya hal ini akan meningkatkan tingkat narcisan sehingga membuat mereka akan semakin mempunyai intensi untuk mempublikasikan vlog yang telah mereka buat.
Saya juga membaca hasil penelitian yang dilakukan oleh Vandenbosch, van Oosten, & Peter (2015), seseorang yang sering melihat konten seksual dalam reality show di televisi akan menstimulasi orang tersebut untuk melakukannya, membuatnya dan mempublikasikan di media sosial mereka. penelitian ini menggambarkan apa yang sedang terjadi pada realita anak-anak dan remaja di Indonesia masa kini, youtube menjadi tontonan alternatif pengganti televisi, bahkan menurut youtuber terkenal di Indonesia bilang bahwa “youtube lebih dari televisi” boom!. Penelitian tersebut menurut saya tidak terbatas hanya pada konten yang berisi adegan seksual seperti ciuman, pelukan dan sebagainya, hal tersebut termasuk konten explicit lainnya. Di Indonesia sendiri ada seorang youtuber yang terkenal, channel nya berisi gaming dan vlog, dalam kontennya mengandung banyak kata-kata kasar dan sumpah serapah yang dia keluarkan, baik saat bermain game, maupun dalam vlognya, tidak sedikit viewernya yang berusia anak-anak dan remaja, sehingga tak heran jika kita pergi ke warnet dan melihat anak-anak main game sambil berteriak dengan kata-kata kasar, atau seperti kasus yang saya tuliskan diatas, adanya anak-anak yang mempublikasikan video lipsync lagu yang penuh konten explicit di youtube. Sama halnya dengan kasus terbaru yang sedang hangat dibicarakan oleh netizen, banyak remaja pada khususnya yang ingin menirukan “relation(shit) goals” tersebut, bahkan saya membaca tulisan dari seorang guru yang anak muridnya mengidolakan sosok youtuber tersebut.
Pada era digital ini, kita dihadapkan oleh generasi baru yang menurut giring nidji adalah generasi 4G, kita yang sudah dewasa secara usia dan mental tidak bisa lepas dari smartphone, anak-anak pun demikian, saya juga memiliki keponakan berusia remaja yang aktif memainkan smartphone, ketika bangun tidur pasti langsung melihat smartphone nya. Miliyaran konten yang tersebar di khususnya youtube, baik konten yang mencerdaskan maupun tidak, konten dengan bahasa sopan maupun kasar, para konten kreator atau youtuber tersebut tidak luput dari pujian, dukungan, kritikan bahkan hinaan, para komentator ada yang menjelma menjadi fans ada juga yang menjelma jadi hater, semua orang bebas mengomentari, baik dalam bentuk apresiasi maupun hinaan, ada yang menyukai karya mereka dan pasti ada pula yang membenci karya mereka, hidup itu seperti simbol ying dan yang, ada titik hitam dalam putih, dan ada juga putih dalam setengah lingkaran hitam.
Sangat diperlukan supervisi dari orang tua maupun kita sebagai orang yang lebih dewasa untuk melakukan penyaringan konten terlebih dahulu kepada anak, adik atau keponakan. Walaupun konten kreator di youtube sudah memberikan peringatan explicit content atau age restriction itu tidak cukup, itu bisa diakali, bukan memboikot atau melakukan hate speech pada youtubernya, sangat disayangkan memang jika ada anak kecil yang ingin belajar membuat video yang menarik dan menghibur, malah di bully habis-habisan, padahal efek bully di dunia maya dapat menambah kecemasan seseorang, menurunkan kepercayaan diri, bahkan lebih parahnya dapat menimbulkan intensi bunuh diri. Pada hari anak nasional ini, selain STOP kekerasan seksual pada anak, kita juga harus melakukan STOP Cyber Bullying pada anak !
Muhammad Yassirullah
Jakarta, 24 Juli 2016
Daftar Pustaka
- Hamid, N.A., Ishak, M.S., & Yazam, S.S.N.M. (2015). Facebook, YouTube and Instagram: Exploring Their Effects on Undergraduate Students’ Personality Traits. The Journal of Social Media and Society, 138-165.
- Lee, J., & Sung, Y. (2016). Hide-and-Seek: Narcissism and “Selfie”-Related Behavior. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 347-351.
- Pervin, L.A., & John, O.P. (1999). Handbook of Personality : Theory and Research Second Edition. New York: The Guilford Press.
- Vandenbosch, L., van Oosten, J.M.F., & Jochen, P. (2015). The Relationship Between Sexual Content on Mass Media and Social Media: A Longitudinal Study. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 697-703.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar