Sabtu, 04 Juni 2016

Rindu untuk Bapak

Saya selalu iri dengan kehidupan orang lain, terutama perihal kehidupan dengan keluarga. Teman-teman saya, dibesarkan dengan keluarga yang lengkap, ada sosok bapak dan ibu dalam keluarga mereka, saya iri dengan mereka terutama pada figur bapak di dalam keluarga. Mayoritas teman saya dibesarkan dengan adanya figur bapak dalam keluarga, berbeda dengan saya, dalam masa hidup saya, mungkin hanya sepertiga dari umur saya saat ini yang dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang dari bapak saya.

Malam ini saya sangat rindu dengan keberadaan bapak saya, karena malam ini saya mengobrol dengan seorang karyawan ditempat saya menjalani project rekutmen kali ini, badannya yang gemuk, tinggi, dan wajahnya yang garang layaknya preman yang di gambarkan dalam sinetron-sinetron di televisi, mirip dengan sosok almarhum bapak saya. Tak hanya secara fisik, pembawaan yang santai dan ngomong apa adanya, hampir mirip dengan bapak saya. Orang yang mirip dengan bapak saya itu bernama heriyanto yang akrab disapa heri.

Malam ini setelah saya makan di tengah malam, saya ingin menutup malam ini dengan sebatang rokok kretek, namun saya melihat bapak heri keluar kamar dan menuju teras mess kami, saya pun berpikir untuk ke teras menemani beliau sambil merokok bersama. Di teras saya menyalakan rokok dan menghembuskan asapnya kelangit, bapak heri memulai untuk mengajak saya mengobrol, pembicaraan kami dimulai dengan target yang akan dia lakukan dalam lima tahun kedepan, dia ingin mengakhiri masa kerjanya setelah anak terakhirnya dapat diterima di kepolisian dan selesai menjalani pendidikan di kepolisian, dan ingin melanjutkan kehidupan dengan argobisnis, dia menceritakan usaha yang dijalani, serta pengalamannya mendidik keponakannya untuk berbisnis, dia memberikan saran dan tips untuk saya untuk berbisnis juga.

Pembicaraan dengan pak heriyan membuat saya merasakan layaknya pembicaraan bapak dan anak, sebuah aktivitas yang sudah lama tidak saya alami. bapak saya meninggal pada tahun 2012, namun sejak saya lahir, masa hidup saya tidak banyak dihabiskan beliau. Malam ini membuat saya sangat rindu dengan almarhum bapak saya, saya rindu semua hal tentang beliau, walaupun dalam hidupnya tidak banyak waktu bersama untuk membesarkan dan mendidik anaknya ini, namun saya yakin dalam hidupnya bapak saya mempunyai cinta dan kasih sayang yang besar kepada saya. Cinta dan kasih sayang tersebut diwujudkan dalam sebuah doa yang berbentuk nama, karena menurut agama saya, nama yang diberikan oleh orang tua adalah doa yang selalu mengiringi langkah kehidupan, Ingin rasanya memeluk beliau dan berkata “pak terimakasih telah memberikan nama Muhammad Yassirullah”.

Malinau Selatan, 4 Mei 2016
Muhammad Yassirullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar