Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi santai dengan rekan yang sudah bekerja di perusahaan ternama di Indonesia sebagai HR. Banyak hal yang kami bicarakan mulai dari pekerjaan, kehidupan, keuangan, masa depan dan lain-lain. Dari berbagai hal yang kami bicarakan saya tertarik untuk menulis hal tentang pekerjaan yang berkaitan dengan performa karyawan.
Perusahaan rekan saya sedang melakukan penilaian performa karyawan atau yang sering disebut performance appraisal (PA). Hasil dari PA ini sangat menentukan bagi karyawan untuk naik jabatan, dapat diterima sebagai karyawan tetap, dilanjutkan kontraknya atau bahkan ditolak untuk menjadi karyawan di perusahan. Makanya banyak karyawan yang sedang bekerja sebaik-baiknya untuk meningkatkan performanya, mematuhi standar oprational procedur (SOP), mengejar Key Performance Indicator (KPI) supaya tercapai dan berbagai hal dilakukan untuk mendapatkan penilaian terbaik. Semua hal dilakukan karyawan untuk mendapatkan hasil yang terbaik bahkan ada yang melakukan layaknya katak melompat, yaitu menginjak bawahan, menyikut rekan kerja dan menjilat atasan.
Di perusahaan rekan saya, selain penilaian dilakukan oleh atasan, dan rekan kerja, namun juga ada penilaian oleh diri sendiri, di perusahaan saya bekerja penilaian terhadap diri sendiri disebut dengan Self Assesment (SA). Rekan saya membicarakan karyawannya yang mempunyai nilai SA yang sangat tinggi, semua indikator penilaian sangat sempurna, semua nilai di nilai tertinggi yang ada dalam penilaian.
Kasus yang diceritakan rekan saya menarik buat diskusikan. saya yang bekerja di dunia training and development karyawan, dalam setiap pelatihan yang saya lakukan, terutama pada pelatihan yang bersifat challenge, kami melakukan penilaian performa melalui self assesment (penilaian terhadap diri sendiri), performance assesment (penilaian yang dilakukan oleh rekan kelompok), behavioral assesment (penilaian yang dilakukan oleh assitant coach) penilaian tersebut dilakukan untuk membuat para trainee tahu apa yang menjadi kekurangan dalam dirinya sehingga dapat di tingkatkan untuk menjadi lebih baik.
Saya pernah dapat kesempatan untuk melakukan training karyawan dari berbagai level, dari level staf, koordinator, bahkan manager. bahkan saya pun pernah menangani karyawan yang punya level penilaian performa dari level khusus, bermasalah, baik, dan sangat baik performanya. Selama pelatihan yang pernah saya jalani, belum pernah menemukan trainee mengisi SA dengan nilai sempurna di seluruh indikator penilaian, bahkan belum pernah saya menemukan setengah dari indikator yang ada dinilai sempurna oleh trainee tersebut, mungkin hanya satu dan dua indikator saja yang di isi dengan nilai sempurna.
Kembali kepada kasus teman saya, ini menjadi menarik karena yang melakukan penilaian SA tersebut adalah salah satu karyawan pada level koordinator. Individu tersebut merasa bahwa dirinya telah melakukan kinerja dengan sebaik-baiknya, sehingga individu tersebut mengisi SA dengan tingkatan penilaian yang sangat sempurna dari seluruh indikator, bagi rekan saya dari kacamata HR nya, ini merupakan sebuah anomali. menurut rekan saya, penilaian yang di lakukan oleh rekan-rekan kerja individu tersebut tidak ada satu pun indikator yang menilai individu tersebut dengan nilai sempurna.
Saya merasa prihatin dengan individu yang di ceritakan oleh rekan saya, saya teringat pada perkataan trainer pada setiap pelatihan yang menyatakan bahwa sesungguhnya individu yang merasa dirinya baik-baik saja, tidak ada masalah bahkan merasa dirinya sempurna, justru individu tersebut dalam masalah yang besar. Individu tersebut menjadi gampang puas dan tidak ingin meningkatkan dirinya untuk menjadi lebih baik lagi, dirinya menjadi orang yang tertutup dengan kebaikan dari orang lain. saran dan kritik bisa dianggap sebagai ancaman, orang yang memberikan saran dan kritik dianggap musuh oleh dirinya. Hal ini dapat berdampak buruk juga untuk perusahaan.
Kemudian saya selalu kagum di setiap sambutan yang dilakukan oleh CEO, Direktur, atau Vice President perusahaan klien kami pada setiap sesi pembukaan training, para pucuk pimpinan tertinggi tersebut selalu menekankan karyawan untuk tidak merasa dirinya sempurna, dan puas dengan hasil yang dicapai. Walaupun pada kenyataanya hasil yang telah dicapai oleh karyawan sangat luar biasa tiap tahunnya, ada perusahaan yang karyawannya sudah dapat achive target sebelum waktunya, perusahaan yang karyawannya dengan bonus 32 kali gaji dalam setahun, bahkan ada perusahaan yang karyawannya dapat bertahan dalam situasi sulit dan tetap melakukan efesiensi dengan menghemat anggaran perusahan sampai 900 miliyar. Sangatlah pantas perusahaan-perusahaan tersebut menjadi yang terdepan dalam market share di Indonesia, dan dapat menjadi benchmark bagi perusahaan-perusahaan lainnya.
Manusia pada hakikatnya memang makhluk yang tidak sempurna, malah dari ketidaksempurnaan itulah dapat membuat kita bisa bertumbuh dan berkembang, dan kita terus berproses untuk menjadi individu yang lebih baik lagi.
Kita bukanlah seorang pemuda yunani yang bernama narcisuss yang menggangap diri kita paling sempurna, sehingga kita hanya jatuh cinta dengan bayangan diri kita sendiri tanpa memperdulikan orang lain, membuat diri kita stagnan bahkan mati tidak bergerak.
Janganlah kita menutup panca indera, pikiran dan hati kita untuk menyadari dan menerima segala kekurangan diri kita. kita pun boleh mengapresiasi hasil yang telah kita capai, namun tidak merasa puas bahkan merasa diri kita sudah sempurna.
Tidak perlulah kita merasa paling hebat, menyampaikan kepada dunia bahwa diri kita sudah hebat dengan merasa diri kita sempurna, karena sesungguhnya orang hebat adalah orang yang dapat menghebatkan orang lain, biarlah mereka yang menyiarkan bahwa diri kita hebat.
Muhammad Yassirullah
Jakarta, 10 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar