Senin, 16 Oktober 2017

Opini Hari Kesehatan mental se-Dunia 2017 di Indonesia


Pada tahun 2017 ini World Health Organisation (WHO) memperingati World Health Mental Day dengan tema “Mental Health in Workplace”,  WHO tahun ini memfokuskan perhatiannya terhadap isu kesehatan mental di tempat kerja, ada 4 hal kunci yang yang menjadi perhatian WHO terhadap isu kesehatan mental di tempat kerja ini :

  1. lingkungan kerja yang negatif (buruk)dapat menyebabkan permasalahan terhadap kesehatan fisik dan juga mental
  2. Depresi dan kecemasan mempunyai dampak yang signifkan terhadap ekonomi, secara global setiap tahunnya diperkirakan mengalami kerugian senilai 1 triliun dolar amerika karena menurunnya produktifitas kinerja.
  3. Pelecehan dan Bullying di tempat kerja merupakan hal sering terjadi, dan mempunyai dampak besar yang merugikan terhadap kesehatan mental. 
  4. Banyak cara efektif yang bisa di lakukan perusahaan untuk mempromosikan kesehatan mental di tempat kerja, cara tersebut juga dapat berdampak baik untuk meningkatkan produktivitas kinerja.
Tahun ini WHO mengajak dunia untuk meningkatkan kepedulian terhadap isu kesehatan mental di tempat kerja seperti membuat kebijakan yang tertuang dalam WHO's Global Plan of Action on Worker’s Health (2008-2017), melakukan kampanye di media sosial, serta hasil-hasil penelitian yang bisa diimplementasikan di tempat kerja.

Menurut Data survey angkatan kerja nasional yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada semester pertama 2017 ini sebanyak 69,02% orang Indonesia yang berusia 15 tahun keatas dalam status bekerja (mempunyai pekerjaan), Isu kesehatan mental ditempat kerja tentunya juga menjadi perhatian terhadap 69,02% atau 190 juta jiwa penduduk Indonesia yang bekerja.

Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) yang menjadi lembaga nasional yang menanungi para praktisi dan akademisi serta ilmuan psikologi yang peduli terhadap kesehatan mental, turut memperingati hari kesehatan mental se-dunia dengan judul kampanye “lets talk well being”. Dan Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) sebagai lembaga besar mahasiswa psikologi satu-satunya di tingkat Nasional yang mengikat mahasiswa psikologi seluruh Indonesia yang saat ini telah mempunyai anggota 97 Perguruan Tinggi ikut serta dengan kampanye #RayakanKesehatanMental.

Saya selama seminggu ini merasa ada yang menganjal ketika mengikuti dan mengamati momen hari kesehatan mental sedunia tahun 2017  di media sosial, membuat saya gatal ingin menuliskan sesuatu.


Lets Talk Wellbeing
HIMPSI dalam websitenya menjelaskan tentang kampanye “lets talk wellbeing”.  Saya melihat poin HIMPSI pada tahun ini fokus terhadap aspek promotif dalam isu kesehatan mental dilingkungan kerja, hal ini terlihat dari dua poin yang menjadi aksi yang dilakukan HIMPSI yaitu pembagian pin “lets talk wellbeing” dan menginfokan pada perusahaan/lembaga pemerintah/institusi lainnya yang membutuhkan pengukuran kesejahteraan psikologis dapat menghubungi atau meminta bantuan ke Program studi/Fakultas Psikologi atau Biro Psikologi terdekat yang bergerak di bidang tersebut. Atau bentuk kegiatan lain yang dilakukan HIMPSI Wilayah khususnya Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi dengan tujuan mendorong kesadaran dan pembicaraan kesehatan mental di tempat kerja.
Langkah yang dikeluarkan Pengurus Pusat HIMPSI terhadap hari kesehatan mental se-dunia ini perlu di apresiasi. Namun saya melihat masih banyak hal yang harus diperbaiki dalam bentuk implementasinya. 

Mari bahas tentang jargon dan pembagian pin “lets talk wellbeing”, jika saya melihat dari kacamata orang awan yang tidak mengetahui teori psikologi pasti akan membuat saya bertanya “ini apa sih ?”, “apa sih maksudnya let’s talk wellbeing”. Saya melihat bahasa yang digunakan kurang persuasif dan tidak umum di mengerti oleh orang awan. Saya tidak menemukan artikel atau penjelasan bentuk aksi yang dilakukan HIMPSI terkait jargon ini, atau hal artikel wellbeing tersebut ditempat kerja yang dikeluarkan HIMPSI. Ketika saya cek twitter @who, saya menemukan bentuk kampanye media sosial yang lebih menarik.

Saya melihat gambar visual yang menampilkan dua orang menggunakan pakaian formal, satu orang terlihat tertunduk dengan ekspresi sedih dan satu orang lagi fokus terlihat sedang bicara kepada rekan kerjanya tersebut, dan di tambahkan tulisan “depression, let’s talk”, hal ini seolah menggambarkan bahwa rekan kerja tersebut peduli terhadap rekan kerjanya dan seakan berbicara “lu ada masalah apa bro, coba sini cerita sama gue”.



Atau gambar visual yang memperlihatkan seorang wanita sedang di dalam mobil dengan kaca mobilnya terbuka, seperti akan berangkat kerja, memperlihatkan ekspresi datar dan ada tulisan “STOP HARASSMENT AT WORK !”. hal ini mengambarkan bahwa wanita sering menjadi objek pelecehan di tempat kerja, dan kita diminta untuk menghentikan kegiatan pelecehan tersebut.



Dan terakhir yang saya temukan di twitter @who adalah video berdurasi kurang dari 1 menit yang berisi tulisan 6 langkah mudah yang bisa dilakukan untuk mempromosikan wellbeing di tempat kerja , link twitter @who.

Poin kampanye berikutnya dari Pengurus Pusat HIMPSI adalah poin “menginfokan pada perusahaan/lembaga pemerintah/institusi lainnya yang membutuhkan pengukuran kesejahteraan psikologis dapat menghubungi atau meminta bantuan ke Program studi/Fakultas Psikologi atau Biro Psikologi terdekat yang bergerak di bidang tersebut”. Hal ini merupakan hal menurut saya tidak berdampak sama sekali, karena menurut saya di Indonesia belum banyak Perusahaan yang peduli tentang kesejahateran psikologis. bagaimana mau peduli tentang kesejahateran psikologis karyawannya, lah wong, kesejahateran yang besifat material ajah banyak diabaikan, masih banyak perusahaan di Indonesia yang memberikan jam kerja diatas 40 jam kerja sehari, memberikan gaji dibawah standar UMR/UMP/UMK, tidak memberikan jaminan BPJS Kesehatan maupun ketenagakerjaan, maupun kontrak kerja yang padahal poin-poin penting sudah diatur oleh undang-undang ketenagakerjaan atau peraturan menteri terkait. Pada poin ini seakaan HIMPSI menyatakan bahwa “kalo butuh kesini nih, kalo gak butuh yah udah gak papa”.

Menurut saya HIMPSI bisa memberikan kampanye yang lebih edukatif, menarik dan kreatif dalam bentuk aksi nyatanya, atau bermain ketataran strategis ke pemerintahan baik eksekutif maupun legislatif yang membuat peraturan dan kebijakan.

#RayakanKesehatanMental
Perlu diakui gerakan yang dilakukan mahasiswa lebih kreatif dan massif. ILMPI yang mempunyai gerakan  #RayakanKesehatanMental ini lebih terlihat gerakannya, baik di dunia nyata maupun dunia nyata. Dimulai dari gerakan kekinian yang disukai oleh mahasiswa jaman now, yaitu membuat twitbon menarik untuk menghias swafotonya di media Instagram dengan dibumbui keterangan foto yang seragam, tidak lupa untuk mention teman-temen dekat, biar mereka tahu bahwa saat ini lagi hits hari peringatan kesehatan mental sedunia loh, kalo gak ikutan gak bisa ikutan panjat sosial, syukur-syukur bisa menambah followers, jika makin banyak yang follow ers siapa tahu ada produk yang mau endorse. Melakukan aksi longmarch sambil lari-lari pagi di Car Free Day, langkah ini sangat tepat karena jika membuat aksi di hari kerja, bisa bikin macet jalanan dan mengganggu aktivitas para pekerja yang bisa menyebabkan stress dan depresi. Atau gerakan yang lebih akademis dengan memasuki ruang-ruang diskusi, melakukan seminar ataupun sosialiasi ke lingkungan terdekat.

Namun gerakan yang masif ini terkesan sporadis, tidak ada satu isu yang sama untuk diangkat disetiap kota-kota berlangsungnya aksi tersebut. Terlihat jauh dari isu yang diangkat oleh WHO tahun ini, berbeda dengan jargon yang diangkat HIMPSI yaitu “lets talk wellbeing”. Atau mungkin memang isu kesehatan yang diangkat oleh ILMPI adalah secara umum, tidak ada satu tujuan bersama yang ingin di bangun atau ditingkatkan kepeduliannya. Oh iya, kan hanya ingin merayakan kesehatan mental.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar